H.R. Sofuan M. atau yang lebih dikenal sebagai Rudy Madian saat ini aktif sebagai konsultan dalam bidang eksport pertanian-pertambangan, management dan keuangan. Rudy adalah seseorang yang percaya betul bahwa kekuatan ada dalam diri kita sendiri. Dan bahwa kebahagiaan adalah selalu ada dalam diri kita. Menurut Rudy senjata paling ampuh dalam pengembangan diri adalah bersyukur dan menjadikan rasa kasih sebagai alat dalam kehidupan ini. Mungkin karena judulnya, yang membuat anda tertarik dan
sedang membaca tulisan ini sekarang.. Karena duit memang sesuatu yang sangat memikat kita dalam proses menjalani
kehidupan sehari-hari.
Mengapa judulnya duit?
Karena duit merupakan salah satu anchor yang saya ciptakan untuk subconscious
mind pribadi saya dalam menjalani pengalaman kehidupan sehari-hari.
Kenapa duit sebagai anchor?
Karena ia paling
mudah diingat oleh saya, terutama yang berwarna hijau…:-)
Kata duit menjadi
anchor buat saya karena ia susah untuk dilupakan dan saat menghadapi pengalaman
kehidupan yang berkaitan dengan anchor tersebut, ia akan dan pasti timbul dalam
diri saya.
Duit saya jadikan anchor karena ucapannya terdengar sama seperti “DO IT” yang berarti “LAKUKAN”
Dalam perjalanan
pengembangan diri, sering kita terpaku pada perjalanan “belajar”. Yang
dimaksud belajar disini adalah mencari dan membaca segala macam buku, mengikuti
seminar atau workshop dan sebagainya. Sering kita terbawa oleh arus “belajar”
itu dan lupa menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.
Ini juga pernah saya alami. Setelah mengikuti sebuah workshop,
misalnya sebuah workshop pengembangan diri, yang berbobot, saya merasa bahwa
apa yang baru saya dapatkan merupakan tambahan pengetahuan yang dapat
meningkatkan kehidupan ini.Dan berbagai contoh terapan yang diajarkan, cocok
dan dapat dilakukan pada diri sendiri agar dapat berkembang. Tetapi karena kesibukan (atau mungkin sok sibuk), malas,
ragu atau kurang percaya diri, satu atau dua minggu kemudian, ketika ditanya
apakah konsep-konsep atau latihan workshop telah saya terapkan dan lakukan,
jawabannya adalah tidak.
Yang lebih celaka lagi, saya malah sudah siap-siap utuk
mengikuti workshop lain, yang merupakan kelanjutan dari workshop sebelumnya.
Yang satu belum latihan, sudah siap-siap untuk lanjutannya, hebat bukan?
Apakah anda pernah mengalami hal seperti ini?
Setelah beberapa kali mengalami hal seperti itu, dan mendengar banyak teman
yang juga berbuat seperti itu…:-) , saya putuskan untuk merubah kebiasaan itu dengan
membuat sebuah anchor yaitu DUIT atau DO IT.
Saya berusaha untuk melakukan apa yang telah saya dapat dari sebuah workshop dalam kehidupan sehari-hari. Saya lakukan latihan-latihan atau praktek yang telah saya terima setelah mengikuti sebuah workshop.
Contoh diatas adalah sebuah contoh sederhana dimana sering kita malas, ragu, kurang percaya diri atau sok sibuk untuk melakukan sesuatu yang dapat merubah pengalaman perjalanan kehidupan kita.
Tapi yang perlu selalu diingat adalah bahwa bagaimanapun
hebatnya buku dan seminar- workshop yang diikuti, semua itu punya limit. Terutama buat diri kita sendiri, karena
diri kitalah yang mengetahui yang paling benar buat kita. Walaupun membaca buku
atau mengikuti seminar dapat meningkatkan diri anda, bila ada setitik saja
informasi yang salah saat kita membaca atau saat kita terima dari seminar,
dapat membuat konflik dengan “diri kita
yang seutuhnya”, dan ini dapat membingungkan dan menghambat proses
pengembangan diri kita sendiri.
Bukan berarti
bahwa kita tak perlu mengikuti workshop, seminar, membaca atau tak perlu lagi
membuka situs pengembangan diri ini, tapi yang perlu adalah, apapun yang telah
kita dapati, tantanglah dengan bertanya pada diri anda sendiri, apakah tepat
dan sesuai dengan diri kita. Setelah itu
DUIT.............(DO IT)
Lakukan dan percayalah akan kekuatan yang ada
pada diri kita sendiri.
Apakah Duit dapat juga menjadi sebuah achor bagi anda?