H.R. Sofuan M. atau yang lebih dikenal sebagai Rudy Madian saat ini aktif sebagai konsultan dalam bidang eksport pertanian-pertambangan, management dan keuangan. Rudy adalah seseorang yang percaya betul bahwa kekuatan ada dalam diri kita sendiri. Dan bahwa kebahagiaan adalah selalu ada dalam diri kita. Menurut Rudy senjata paling ampuh dalam pengembangan diri adalah bersyukur dan menjadikan rasa kasih sebagai alat dalam kehidupan ini. Ada sebuah cerita
menarik yang saya alami beberapa saat yang lalu. Cerita ini terjadi saat
pertemuan dengan teman lama saya, kita
sebut saja sebagai ibu Yanti, di disebuah restoran di mall dibilangan Jakarta
Selatan. Pertemuan antara dua teman dan
keluarganya yang telah sekian lama tidak bertemu tentu biasanya membawa banyak
cerita. Mengenai kerjaan, anak-anak dan cerita mengenai teman-teman lama lainnya
yang sudah jarang bertemu.
Tetapi dari semua nostalgia dan cerita-cerita itu, entah mengapa ada sebuah cerita, yang selalu diulang-ulang oleh ibu Yanti, yaitu mengenai pembantu setianya, sebut saja sebagai mbok Ipeh. Pembantu ini bertahun-tahun telah menemani mereka, sejak mereka baru menikah. Walaupun sangat setia dan pekerja keras, ada satu hal yang kurang mereka senangi dari mbok Ipeh tersebut. Ia sering mengeluh.
Ibu Yanti menceritakan (berkali-kali dan dengan semangat) bahwa mboknya tersebut mengeluh dalam hal apapun, bisa mengeluh dalam hal yang kecil maupun yang besar. Misalnya saat ibu Yanti pulang belanja dan membawa bonus sabun ukuran kecil, mbok Ipeh menerimanya dengan ngedumel sambil berkata “itu toko, ngasih hadiah kok kecil begini…pelit amat”. Atau pada saat lainnya, saat kucing peliharaan ibu Yanti walaupun telah membuang kotoran ditempat yang telah ditentukan, mbok Ipeh masih aja mengeluh dan ngedumel bahwa kotoran kucing itu, beginilah, begitulah dsb. Atau pada saat lainnya, saat ibu Yanti membeli makanan, mbok Ipeh sering mengeluh bahwa makanan yang baru dibeli tersebut kurang enak dan sebagainya, dan sebagainya…..
Sebenarnya cerita-cerita tersebut diatas sering terdengar
dan terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dan kami sekeluarga hanya tersenyum mendengarkan saja.
Tetapi akhirnya saya harus menjawab saat ibu Yanti bertanya langsung
kepada saya,
“Bagaimana tuh? kesal deh aku, ada cara ngga ya mengurangi
sifat si mbok?”,terpaksa saya memberikan jawaban,
”Kamu sedang apa barusan?”
“Ya…cerita mengenai mbok ku…piye sih??” jawab ibu Yanti
dengan agak kesal.
“Cerita atau ngeluh?” tanya saya padanya
“Hmmmmm…..cerita, tapi, ngeluh juga ya….hahahahaha” jawab
ibu Yanti sambil memukul kepalanya sendiri.
Selanjutnya saya mencoba menerangkan kepada ibu Yanti bahwa kita harus selalu coba melihat signal dan mawas diri. Mbok Ipeh dengan kepribadian-sifatnya, yang selalu ada dalam realita kehidupan diri ibu Yanti selama ini, dengan sadar atau tidak sadar merupakan buatan Ibu Yanti sendiri, ia yang menarik mbok Ipeh dalam kehidupannya., dan mbok Ipeh bisa merupakan refleksi atau cerminan dari ibu Yanti sendiri. Mbok Ipeh bisa saja merupakan petunjuk atau sinyal bagi ibu Yanti untuk mawas diri dan melihat kedalam dirinya sendiri. Ibu Yanti tanpa sadar bisa saja adalah seorang pengeluh juga.
Menjawab pertanyaan teman kami mengenai mbok Ipeh, akhirnya saya hanya dapat memberi masukan agar terus mengingatkan mbok Ipeh untuk tidak mengeluh dan selalu bersyukur.
Selanjutnya saya katakan kepada ibu Yanti, bahwa yang lebih penting adalah agar dirinya yang harus selalu bersyukur menerima keadaan, apapun dan bagaimanapun bentuknya. Dengan selalu bersyukur, dia akan, saat itu juga menghilangkan keluhan-keluhan yang ada dalam dirinya.
Bersyukur merupakan senjata paling ampuh dalam meningkatkan energi positif dan kesadaran dalam kehidupan kita.
Dan tentu saja yang paling menarik dari peristiwa itu adalah,
bahwa selain mbok Ipeh merupakan sinyal buat ibu Yanti, kami sendiri juga
mendapat sinyal dari Ibu Yanti.
Ia merupakan sinyal bagi saya sendiri, atau juga mungkin buat anggota keluarga saya yang sedang berada saat
pertemuan itu dan mendengarkan Ibu Yanti bercerita..
Mungkin kami juga masih sering mengeluh atau masih kurang kesadarannya untuk selalu bersyukur. Dengan adanya Ibu Yanti, kami mendapatkan sinyal untuk menambah kesadaran kami akan sifat-sifat yang perlu diperbaiki tersebut.
Masih banyak cerita-cerita sederhana yang terjadi disekitar
kehidupan kita sehari-hari. Dan anda seperti halnya saya, pasti sering mengalaminya. Tetapi mungkin
saya dan anda sering melewatkan saja kejadian sederhana yang sebenarnya mungkin
membawa petunjuk atau sinyal buat pengembangan diri kita.
Biasanya kita lebih mudah untuk mengenali sinyal atau petunjuk Tuhan yang
bersifat lebih “heboh” dan melewatkan sinyal yang nampak sederhana menurut
persepsi kita.
Tapi sinyal adalah tetap sinyal, petunjuk adalah tetap petunjuk, baik itu sederhana ataupun heboh. Yang diperlukan adalah meningkatkan awareness atau kesadaran kita terhadap petunjuk atau sinyal itu. Kita harus lebih peka untuk mendengar dan merasakan, dan menerimanya sebagai sebuah input dalam proses untuk meningkatkan diri kita dalam menikmati pengalaman hidup yang sedang kita jalani ini.