- Home
- Bisnis & Karir
- Bagaimana Cara Anda Menyelesaikan Masalah?
Bagaimana Cara Anda Menyelesaikan Masalah?
- By Al Falaq Arsendatama
- Published 20/04/08
- Bisnis & Karir
-
Rating:




Al Falaq Arsendatama
Al Falaq Arsendatama bekerja sebagai life coach untuk membantu mereka yang menginginkan peningkatan kualitas karir, bisnis dan kehidupan personal. Ia juga director dan founder dari True Life Institute http://www.truelifeinstitute.com yang merupakan institusi coaching, counseling, dan healing.
View all articles by Al Falaq ArsendatamaDua pendekatan dalam melihat suatu masalah
Dalam pengalaman saya bekerja dan berinteraksi dengan banyak orang, saya amati ada dua tipe orang dalam menghadapi masalah atau problem, baik di pekerjaan maupun kehidupan sosial. Dua tipe ini adalah reactive (bereaksi begitu masalah datang) dan receptive (mau menerima masalah).
Pendekatan Reactive
Mereka yang reactive biasanya melihat suatu masalah sebagai ancaman. Entah ancaman terhadap karirnya, bisnisnya, keluarganya, dan sebagainya. Dalam kelompok ini Anda mencari solusi terhadap masalah dengan menggunakan pendekatan logis dan tradisional. Ciri-cirinya:
Pendekatan Receptive
Pendekatan ini biasanya dipraktekkan oleh mereka yang sudah menyadari bahwa masalah bukanlah ancaman tetapi justru konsekuensi yang timbul dari suatu kondisi yang kita ciptakan. Oleh karena itu kita mempunyai kekuatan untuk mengubah kondisi tersebut dari dalam diri sendiri. Anda mau menerima masalah dan pada saat yang sama membuat solusinya.Ciri-cirinya:
Ketika masalah datang, Anda mengenalinya dan menggunakan pendekatan:
Contoh yang paling sederhana adalah ketika pasangan yang Anda cintai (misalnya istri, suami, atau pacar) sedang ngambek karena masalah sepele. Dengan pendekatan reactive, Anda hanya akan memperburuk keadaan dengan bertanya-tanya kenapa dia harus ngambek, menganalisa penyebabnya dan merasa kondisi ini akan mengancam keharmonisan hubungan Anda dengannya. Bukannya solusi yang didapat tetapi justru kecemasan dan kekhawatiran.
Dengan pendekatan receptive, Anda menerima dan menyadari bahwa pasangan Anda sedang marah. Anda fokuskan energi Anda untuk menciptakan kasih sayang yang pada dasarnya merupakan lawan dari kemarahan. Anda tidak larut terbawa suasana – mencoba mencari jawaban dari analisa kenapa dia jadi marah – tetapi mengambil alih kendali dari dalam diri sendiri, tetap berpikir tenang, dan menunjukan sikap positif dalam perilaku Anda. Anda akan rasakan bahwa berada dalam situasi ini justru membuat diri Anda berkembang. Anda membuat kualitas positif dari diri Anda muncul ke permukaan dan sudah menjadi hukum alam dengan bersikap seperti ini pasangan Anda niscaya akan berubah dari marah menjadi cinta.
Pendekatan receptive ini bisa Anda praktekkan di kehidupan bisnis, rumah tangga, dan sosial. Intinya Anda membangun keyakinan bahwa masalah tidaklah nyata sehingga Anda tidak merasa terbebani. Latih diri Anda untuk tidak reaktif ketika suatu masalah muncul. Fokuskan diri Anda pada lawan dari masalah, yaitu solusi, untuk menemukan kendali dan bukannya larut dalam masalah itu.
Pendekatan Reactive
Mereka yang reactive biasanya melihat suatu masalah sebagai ancaman. Entah ancaman terhadap karirnya, bisnisnya, keluarganya, dan sebagainya. Dalam kelompok ini Anda mencari solusi terhadap masalah dengan menggunakan pendekatan logis dan tradisional. Ciri-cirinya:
- Begitu masalah datang Anda cenderung segera mencari cara apapun untuk mengatasinya.
- Masalah dilihat sebagai faktor penghambat perkembangan diri.
- Anda akan segera menyusun strategi untuk menghadapi masalah
- Karena masalah dilihat sebagai ancaman, dia akan mendominasi pikiran dan cenderung menyebabkan kecemasan dan stress.
Pendekatan Receptive
Pendekatan ini biasanya dipraktekkan oleh mereka yang sudah menyadari bahwa masalah bukanlah ancaman tetapi justru konsekuensi yang timbul dari suatu kondisi yang kita ciptakan. Oleh karena itu kita mempunyai kekuatan untuk mengubah kondisi tersebut dari dalam diri sendiri. Anda mau menerima masalah dan pada saat yang sama membuat solusinya.Ciri-cirinya:
Ketika masalah datang, Anda mengenalinya dan menggunakan pendekatan:
- Masalah merupakan kebalikan dari solusi. Ketika masalah muncul, Anda percaya saat itu juga bahwa solusinya sudah ada.
- Anda fokus kepada solusi dari persoalan yang timbul, bukan pada penyebab dari masalah itu. Dengan demikian Anda mengambil alih kontrol dari dalam diri Anda sendiri, bukannya dikendalikan oleh keadaan di luar.
- Masalah merupakan kesempatan untuk pengembangan diri. Anda melihatnya sebagai peluang untuk meciptakan realitas positif dalam hidup Anda.
Contoh yang paling sederhana adalah ketika pasangan yang Anda cintai (misalnya istri, suami, atau pacar) sedang ngambek karena masalah sepele. Dengan pendekatan reactive, Anda hanya akan memperburuk keadaan dengan bertanya-tanya kenapa dia harus ngambek, menganalisa penyebabnya dan merasa kondisi ini akan mengancam keharmonisan hubungan Anda dengannya. Bukannya solusi yang didapat tetapi justru kecemasan dan kekhawatiran.
Dengan pendekatan receptive, Anda menerima dan menyadari bahwa pasangan Anda sedang marah. Anda fokuskan energi Anda untuk menciptakan kasih sayang yang pada dasarnya merupakan lawan dari kemarahan. Anda tidak larut terbawa suasana – mencoba mencari jawaban dari analisa kenapa dia jadi marah – tetapi mengambil alih kendali dari dalam diri sendiri, tetap berpikir tenang, dan menunjukan sikap positif dalam perilaku Anda. Anda akan rasakan bahwa berada dalam situasi ini justru membuat diri Anda berkembang. Anda membuat kualitas positif dari diri Anda muncul ke permukaan dan sudah menjadi hukum alam dengan bersikap seperti ini pasangan Anda niscaya akan berubah dari marah menjadi cinta.
Pendekatan receptive ini bisa Anda praktekkan di kehidupan bisnis, rumah tangga, dan sosial. Intinya Anda membangun keyakinan bahwa masalah tidaklah nyata sehingga Anda tidak merasa terbebani. Latih diri Anda untuk tidak reaktif ketika suatu masalah muncul. Fokuskan diri Anda pada lawan dari masalah, yaitu solusi, untuk menemukan kendali dan bukannya larut dalam masalah itu.
Spread The Word
58 Responses to "Bagaimana Cara Anda Menyelesaikan Masalah?" 
|
said this on 09 Jun 2008 2:52:24 AM EDT
dengan membaca artikel ini saya tahu termasuk dalam ciri orang yang mana?
|
|
said this on 01 Jul 2008 9:05:41 AM EDT
Hmmm akhirnya saya menemukan "solusi"nya.
maaf kadang ketika masalah datang, biasa team kita (saya hampir) selalu bekerja dengan team, saya yang tadinya ingin receptif malah jadi ikut ikutan reakif karena kawan kawan bertingkah sepeti itu juga....( reaktif)
|
|
said this on 28 Jul 2008 3:13:47 AM EDT
Memang jika masalah datang, kebanyakan dari kita langsung bereaktive, sehingga masalahnya jadi tambah keru dan bukan mencari solusi bagaimana cara memecahkan masalah tapi membuat masalah baru. Saya senang banget baca artikel ini coz kadang saya juga terbawa arus jadi reaktif.
|
|
said this on 18 Aug 2008 8:56:06 PM EDT
saya belum bisa banyak berkomentar,karna saya sendiri sedang ada banyak masalah,dan masalah itu kadang mebuat saya untuk berpikir bodoh... (__) . (^.^) ....saya sangat takut dengan masalah saya ini
|
|
said this on 21 Oct 2008 2:53:04 AM EDT
sayasetuju dengan pemikiran Anda. Saya sering belajar untuk menghadapi masalah dengan bijak. trim untuk konsep anda.
|
|
said this on 05 Nov 2008 8:52:39 AM EDT
betul seperti yang anda sampaikan... untuk jadi orang yang tenang dalam menghadapi masalah perlu latihan, semoga saya bisa mempraktekkan seperti konsep anda.. u tenang dalam menghadapi masalah.. kaena pada dasarnya hidup itu adalah masalah yang kesemuanya tentu ada solusinya.. thank..... artikelnya bagus...andai saja saya bisa terima email2 seperti artikel anada untuk pengembangan diri.. saya akan sangat senang dan berterima kasih
|
|
said this on 14 Nov 2008 12:51:42 AM EDT
Saya setuju dengan saran anda dan terima kasih
|
|
said this on 10 Dec 2008 3:17:21 AM EDT
orang biasanya lebih mudah bertindak reaktif daripada receiptif, karena situasi dan kondisi serta faktor emosi, bila ini yang terjadi, bagaimana solusinya?
|
|
said this on 18 Jan 2009 8:13:29 AM EDT
berarti ini (receptive) kita mengubah cara pandang kita akan masalah itu. mengubahnya dari ancaman menjadi peluang untuk mengembangkan diri. Klo menurut saya , dalam mencari solusi, kita perlu untuk mengetahui penyebab dari masalah itu, agar solusi yang kita dapat itu tepat sasaran.
|
|
said this on 16 Mar 2009 1:12:53 AM EDT
Sangat setuju saya tapi kadang hati tak selalu siap menerima apa yang berlawanan kemauan saya.
|
|
said this on 30 Mar 2009 12:48:04 AM EDT
Good article....
tapi sy pribadi lebih ke reactive jika mendpt masalah meskipun akhirnya kadang menjadi receptive jika sdh tidak mampu menyelesaikan mslh yg ada.
menurut saya keterlibatan orang lain (org terdekat kita) dalam menghadapi masalah akan sngt membantu dalam menyelesaikan n mendptkan solusi terbaik dlm penyelesaian suatu masalah.
|
|
said this on 09 May 2009 4:54:19 AM EDT
Setahu saya kita perlu berfikir terlebih dahulu lalu bertindak, tetapi kadang berfikir itu menimbulkan banyak kecemasan yang akhirnya muncul. kira - kira sejauh apa kita dapat merespon dengan berfikir strategi penyelesaian ?
Ada pesan yang disampaikan di artikel ini bahwa bersifat reactive bisa berbahaya. boleh dijelaskan ?
salam kenal ya.
|
|
said this on 12 May 2009 1:13:19 AM EDT
Reaksi reaktif timbul karena sikap kita yang otomatis keluar tanpa berpikir. Misalnya seseorang yang terbiasa marah di kantor bisa jadi marah di rumah karena hal sepele. Dia tidak berpikir sehat lagi dan cenderung mengikuti emosinya yang sudah dikondisikan untuk marah. Itu yang saya maksud dengan sikap reaktif.
|
|
said this on 25 Jun 2009 9:17:42 AM EDT
artikel yg bagus,, good writen
|
|
said this on 14 Jul 2009 2:53:20 AM EDT
terima kasih artikelnya, memang di kehidupan masalah pasti ada, bagaimana saya harus menyelesaikannya.
|
|
said this on 31 Jul 2009 2:00:15 AM EDT
is the best artikel tidak semua orang dapat memahami orang lain
|
|
said this on 14 Aug 2009 12:37:06 PM EDT
tidak hanya fokus untuk mencari solusi akan lebih baik jika kita mengetahui akar dari permasalahan sehingga strategi yang kita buat tepat dan sesuai dengan permasalahnnya
|
|
said this on 27 Aug 2009 10:25:21 PM EDT
hmm...
fiyuh...........
cape bgt quw menghadapi smw proses hidup ni.........
bnr2 kacau hidup gw..............
bwt iang baca tulisan gw,, quw mohon bantu gw klwr dari smw ini.........
|
|
said this on 04 Sep 2009 2:58:30 AM EDT
subhanalloh mudah2an q bisa menjadi receptive. amin
|
|
said this on 05 Sep 2009 10:54:23 AM EDT
wah aku termasuk orang reactive, bagaimana ya mengubah menjadi receptive
|
|
said this on 23 Sep 2009 9:03:14 PM EDT
sungguh luar biasa artikel ini betapa baiknya jika saya bisa mendapatkan buku ini untuk referensi pengajaran saya di SMK TUNAS WIJAYA
|
|
said this on 25 Sep 2009 7:56:23 AM EDT
Saya kini sedang berhadapan dengan masalah. Kini solusi telah ditemui akan tetapi orang yang mengadu masalah tersebut tidak mahu menerima penjelasan dan solusi yang saya temui.
|
|
said this on 28 Sep 2009 12:29:14 AM EDT
tolong selesaikan masalah saya...jiwa saya tertekan sangat kerana semua kawan yang saya paling saya sayang telah buang saya kerana masalah yang boleh diselesaikan dengan cara yang baik kini saya dipandang serong oleh kawan2 yang lain
|
|
said this on 02 Nov 2009 7:30:37 PM EDT
Tulisan yang mencerahkan sekali , terkadang kita sangat sulit untuk memahami esensi dari masalah itu sendiri dan cenderung untuk memperuncing dan memperumit tanpa berusaha mencari solusi untuk permasalahan itu sendiri . Terima kasih , salah satu tulisan yang menurut saya bagus sekali
|
|
said this on 02 Nov 2009 7:30:50 PM EDT
Tulisan yang mencerahkan sekali , terkadang kita sangat sulit untuk memahami esensi dari masalah itu sendiri dan cenderung untuk memperuncing dan memperumit tanpa berusaha mencari solusi untuk permasalahan itu sendiri . Terima kasih , salah satu tulisan yang menurut saya bagus sekali
|
|
said this on 26 Nov 2009 2:03:06 PM EDT
Apakah ada orang yang diantara reactive dan receptive ?
|
|
said this on 13 Dec 2009 11:06:24 PM EDT
Seseorang harus bertindak receptif atau reactive dalam menghadapi masalah tergantung kondisinya. Allah memberikan kita 2 telinga agar lebih banyak mendengar. Allah memberikan otak/akal bagi kita untuk memecahkan masalah secara akal sehat. Allah memberikan hati bagi kita untuk bertindak secara bijak dalam menghadapi atau memecahkan masalah.
|
|
said this on 14 Dec 2009 12:25:06 AM EDT
gw sepakat dng apa yg di katakan pokonya ok lah
|
|
said this on 19 Dec 2009 12:25:04 AM EDT
that's very help me for the best solution
|
|
said this on 19 Dec 2009 12:27:37 AM EDT
that's very help me for the best solution
|
|
said this on 28 Dec 2009 11:41:50 PM EDT
hebat , keren & very very inspiring :)
teruslah bekarya mas .. hehe..
|
|
said this on 04 Jan 2010 3:59:47 AM EDT
terima kasih artikelnya, banyak bermanfaat utk saya.
|
|
said this on 10 Jan 2010 11:09:09 PM EDT
memang terkadang gto mas...
bersikap tnang jg pkiran dingin..
tp andaikan selalu mengalah dalam suatu hub yg sll begitu ruz gmn lg mas...
sbenarnya di ambang batas manakah sebuah pengertian di berlakukan...??
|
|
said this on 13 Jan 2010 2:51:29 AM EDT
tp gmn caranya ya melakukan hal itu, terkadang sebagai manusia biasa kita mudah terpengaruh oleh msalah2 itu yg nantinya menjadikan kita takut pd msalah
|
|
said this on 13 Jan 2010 10:34:40 PM EDT
hewm...........
baiklah kalau begitu, saya tahu apa yang harus saya lakukan. thanks...
|
|
said this on 19 Mar 2010 2:51:31 AM EDT
terima kasih atas artikelnya,,,,,tapi saya sendiri merasa sangat sulit sekali untuk melakukan itu walau saya sendiri dan mungkin semuanya sudah tau caranya bila da yang marah kita harus melawannya dengan kasih sayang tapi kenyatanya sangat sulit kita gk bisa menganalisa suatu permasalahan itu yang mau saya tanyakan bgimana supaya kita tidak emosi dalam menyelewsaikan suatu masalah..???
|
|
said this on 08 Apr 2010 1:24:34 AM EDT
articel... yang sangat baik... bagus untuk panduan hidup seseorang yang menghadapi masalah....
|
|
said this on 10 Apr 2010 11:40:47 AM EDT
bagaimana jika da msalah besar sdngkn pasangan kita mnta putus atau cerai pada saat
apakah harus menerima dan menganalisa masalah dulu?
tlng ksh solusi ya...
|
|
said this on 22 Apr 2010 3:43:10 AM EDT
articel yg sangat bagus,semoga bermanfaat buat saya anda dan juga semua aminn...semoga..
|
|
said this on 10 May 2010 9:41:01 AM EDT
Wah bagus nie artkel nya..
Maen donk pak ke gubug saya nie..
|
|
said this on 10 May 2010 9:42:43 AM EDT
Nie pak satu lagi maen yah ketempat saya..
hehe
|
|
said this on 13 May 2010 6:44:52 AM EDT
Terimakasih atas artikelnya>_
|
|
said this on 23 May 2010 10:59:45 AM EDT
hti tetap dingin, jangan dulu emosi tekadkan dalan hati SAYA TIDAK BOLEH MARAH,dengan mrah tidak akan bisa menyelesikan masalah,ikhlas bersabar bertawakal.
|
|
said this on 27 May 2010 8:48:58 AM EDT
Teringat firman Allah tentang hal ciptaanNya dgn berpasang pasangan. Wanita-pria, hitam-putih, baik-buruk, dll. Sehingga kalau anda bilang Masalah-Solusi, saya setuju habis. Terima kasih.
|
|
said this on 27 May 2010 8:54:21 AM EDT
terima kasih, jadi teringat dengan firman Allah bahwa Dia menciptakan secara berpasang pasangan. Ada baik-buruk, hitam-putih, besar-kecil, wanita-pria, siang-malam, gelap-terang. Begitu juga Masalah-Solusi.
|
|
said this on 30 May 2010 2:58:30 AM EDT
thank ya , dengan membaca artikel pendek ini , saya jadi punya referensi untuk diri saya , jika nanti saya punya masalah saya bisa lebih gmpang mengatasiiiiii !!!!!!!!!11
|
|
said this on 12 Jul 2010 6:02:44 AM EDT
sjujur nya saya mmg bsikap receptive. da apa2 masalah saya selalu dapat selesai kn. tetapi sakit dan rasa mengalami masalah itu belum dapat saya jumpa ubat nya. sya ingin meminta pendapat bgaimana cara untuk menghilang kan rasa sakit itu.
|
|
said this on 21 Jul 2010 2:31:54 AM EDT
andai bisa gabungan dari keduanya tentu baik, kita receptive tapi perlu juga terbiasa reaktif, karena kalau hanya terbiasa receptive suatu saat datang masalah yang sangat berat bertubi tubi dalam tempo cepat akan membuat kita shock, lain halnya kalau kita sedikit terbiasa merasakan reactive. tp tentunya lebih di-dominankan pada sifat receptive
|
|
said this on 18 Aug 2010 8:15:19 PM EDT
suatu pemikiran yang jitu.......... mengedepankan akal bukan emosi...... karena semua solusi berada dalam akal kita.........
cermati... amati...pikirkan...laksanakan........
|
|
said this on 23 Aug 2010 1:21:52 PM EDT
macam ner pulak dengan masalah sy ni......macam ner nak atasi kalu ada org ketiga dlm sebuah keluarga cth nyer suami ada org lain?
|


Author)