Supardi Lee adalah seorang entrepreneur sukses, trainer berpengalaman, dan penulis. Bukunya diantaranya The Rich Plan, Achiever, Opportunity Quotient, Kerja Kecil.
Setiap Kamis Pkl. 05.00 - 06.00 ia mengisi acara Power of Life di Radio Trijaya 104,6 FM. Ia bisa dihubungi di 0813.1990.8086 dan di supardiku@yahoo.com Ini cerita tentang kerang rebus dan kerang mutiara. Suatu kali ada
seorang ibu kerang dan sepuluh anak-anaknya. Mereka sedang bermain-main di laut.
Tiba-tiba, seorang anak kerang berteriak.
“Ibu, ibu, tolong, Bu.“
“Kenapa Nak?“ tanya ibunya.
“Aku kemasukan pasir, Bu.
Sakit sekali”
“Tahanlah Nak. Keluarkan saja
lendirmu. Lama-lama sakitnya pasti
hilang.”
Sang anak kerang pun menuruti ibunya. Dari hari ke hari ia kesakitan. Ia terus kesakitan. Tapi ia tidak mengeluh. Ia terus mengeluarkan lendirnya menyelimuti
pasir itu.
Ibu dan saudara-saudaranya yang lain ada yang menghibur sang anak
kerang. Tapi kebanyakan malah
meledeknya. Mereka mentertawakan dan nyukurin kesakitan sang kerang. Tapi sang kerang tetap bersabar.
Lama-lama, rasa sakitnya menghilang.
Ternyata pasir yang masuk tubuhnya telah terselimuti oleh
lendirnya. Ia tidak lagi merasa
sakit. Ia pun bisa bermain-main lagi
bersama ibu dan saudaranya.
Suatu hari datang nelayan. Ia
berhasil memperoleh banyak kerang, termasuk sang kerang yang kemasukan pasir
tadi. Kerang-kerang itu pun berpisah
dengan ibunya. Betapa sedihnya
kerang-kerang itu. Tapi tiba-tiba
terdengar teriakan ibu kerang:
“Jangan bersedih anak-anakku. Inilah
saatnya kalian berhenti bermain.
Sekarang saatnya kalian memberi manfaat pada manusia. Itulah tujuan hidup kalian. Berilah manfaat yang sebesar-besarnya.“
Anak-anak kerang pun mengerti.
Mereka mentaati ibunya. Mereka
akan memberi manfaat yang terbaik bagi manusia.
Sang nelayan sampai di darat. Ia dan
istrinya memeriksa kerang-kerang itu.
Betapa senangnya ketika mereka mendapati ada satu kerang yang ada
mutiaranya. Suami istri nelayan itu pun
memanggil anak-anaknya. Budi dan Diah.
“Nah Budi, Diah, ayah menemukan kerang mutiara. Ayah akan menjualnya. Harganya sangat mahal. Uang hasilnya bisa kita gunakan untuk memperbaiki
rumah, dan biaya sekolah kalian.“
Budi dan Diah sangat senang. Tadinya
mereka sangat sedih. Mereka ingin
melanjutkan sekolah, tapi tidak ada biaya.
Tapi sekarang, masalah itu bisa diatasi.
Mereka sangat bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih pada sang
kerang. Meski kerang itu telah
mati. Budi dan Diah akan menguburkan
sang anak kerang. Di atasnya ada tulisan
:
“Kerang
Mutiara. Pahlawan Budi
dan Diah“
Bagaimana dengan
saudara-saudara sang anak kerang? Mereka
akhirnya direbus istri sang nelayan.
Mereka dijual di pasar dengan harga Rp. 100,- per buah.
Begitulah kisah
kerang mutiara dan kerang rebus ini.
Apa yang bisa
kita pelajari? Ada beberapa. Pertama:
BERANI MENAHAN KESAKITAN
Sang anak kerang
berhasil menjadi kerang mutiara. Ia
berhasil memberikan manfaat yang besar bagi keluarga sang nelayan. Itu adalah hasil sikapnya ketika tubuhnya
kemasukan pasir.
Sang anak kerang
kesakitan. Tapi ia tetap bertahan. Ia terus berusaha. Ia tidak putus asa. Itulah pilihan sikap yang luar biasa. Banyak orang yang ketika ditimpa masalah,
mereka lari dari masalah itu. Masalahnya
tidak selesai. Bahkan masalah itu
membesar. Itulah akibat lari dari
masalah.
Banyak orang
juga yang berhenti berusaha. Misalnya
ingin jadi pebisnis sukses. Mereka sudah
mulai berbisnis. Eh, di tengah jalan
timbul masalah. Mereka berusaha
menyelesaikannya. Tapi tidak
selesai-selesai. Akhirnya mereka
menyerah. Cita-cita ingin jadi pebisnis sukses pun terkubur
dalam.
No Pain No Gain, kata orang bijak. Kita punya juga peribahasa bagus :
“Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian”. “Bersakit-sakit dahulu,
bersenang-senang kemudian.”
Setiap kita
pasti ingin mempunyai nilai diri yang tinggi.
Apakah jadi pintar, kreatif, pengusaha sukses, artis terkenal, pejabat
tinggi, jadi ulama besar, dan sebagainya.
Keinginan itu bagus sekali. Anda
harus mulai berusaha ke arah sana.
Yakinlah kalau
di tengah jalan anda pasti berhadapan dengan masalah. Nah, ketika anda berhadapan dengan masalah
itu, ingatlah cerita ini. Tanyakan pada
diri anda : “Saya mau jadi kerang rebus atau kerang mutiara?”
Saya yakin anda
ingin jadi kerang rebus. Karena itu,
bangkitlah. Berusaha sampai sukses. Tahan kesakitan-kesakitan. Jadilah manusia disiplin. Meski disiplin itu menyakitkan, tapi hasilnya
setimpal.
Makna kedua dari
cerita itu adalah :
JADILAH
MANUSIA TERBAIK. MANUSIA YANG MEMBERIKAN
MANFAAT TERBAIK BAGI SESAMA.
Kerang mutiara
telah berjuang keras. Ia
melalui banyak rintangan. Ia
bertahan. Karena itu, ia menjadi kerang
yang bernilai tinggi. Ketika mutiaranya
di jual, harganya tinggi sekali. Dengan
nilai yang tinggi, ia bisa memberi manfaat yang tinggi pula.
Berbeda dengan
kerang biasa. Nilai mereka jauh lebih
rendah dari kerang mutiara. Karena
nilainya rendah, manfaat mereka pun rendah.
Untuk itu,
jadilah kerang mutiara. Kerang mutiara
memberi manfaat jauh lebih banyak dari kerang rebus. Satu kerang mutiara bisa
berharga ribuan kerang rebus.
Untuk bisa
melakukan ini, kita harus punya pola pikir memberi. Jadi, kalau ketemu orang, pertanyaan dalam
benak kita adalah: “Manfaat apa yang bisa saya berikan untuk orang ini?“
Pola pikir
memberi adalah pola pikir hebat. Semua
orang sukses melakukannya. Lihatlah
orang yang punya perusahaan. Makin
banyak orang yang diberi manfaat olehnya, makin sukses perusahaan itu.
Inilah salah satu rahasia orang sukses. Ini juga rahasia kenapa tidak banyak
orang sukses. Tidak banyak orang
yang berpola pikir memberi. Mereka berpikir sebaliknya. “Apa yang bisa saya dapat?”
Pola pikir:”Apa
yang bisa saya dapat?” adalah pola pikir orang gagal. Ia akan bertindak sesuai
pikirannya. Karena pikirannya gagal,
tindakannya juga tindakan gagal.
Kenapa disebut
pikiran gagal? Karena tidak menyenangkan
berinteraksi dengan orang yang pola pikirnya begini. Akibatnya, tidak ada yang mau bergaul
dengannya. Padahal sukses akan didapat
melalui bergaul dengan orang lain.
Makna ketiga
dari cerita ini adalah :
JANGAN PEDULIKAN HAL-HAL NEGATIF DARI
ORANG LAIN
Ketika sang
kerang kesakitan, ia diledek oleh saudara-saudaranya. Meski pun sakit, sang kerang mutiara diam
saja. Ia tidak membalas perlakuan buruk
saudaranya. Ia hanya terus berusaha agar
kesakitannya hilang.
Ini sikap yang
luar biasa. Bayangkan bila sang kerang
justru membalas. Ia marah. Ia balas mengejek saudara-saudaranya. Apa yang akan terjadi? Sang kerang mutiara mungkin akan kehabisan
tenaga. Ia harus bertahan dari
kesakitannya dan marah. Sang kerang
mungkin saja mati.
Ini terjadi
dengan banyak orang. Mensikapi situasi buruk dengan marah. Misalnya anda seorang suami. Anda pulang ke rumah dalam keadaan
lapar. Tubuh anda lemas tak
bertenaga. Ketika anda buka lemari
makan, ternyata tidak ada makanan. Apa
yang akan anda lakukan pada istri anda di rumah?
Kebanyakan orang
akan marah. Entah darimana tenaga
marahnya. Tapi, ia bisa memarahi
istrinya yang belum masak. Sebenarnya ia
sedang membuang-buang tenaga percuma.
Setelah marah, ia pasti merasa lebih lapar lagi.
Karena itu,
berhentilah bersikap negatif pada orang lain atau suatu situasi. Pada orang dan situasi yang negatif
sekalipun. Sikap terbaik pada orang
negatif adalah justru bersikap baik. Sikap
terbaik pada situasi negatif adalah belajar dari situasi itu.
Berilah orang,
yang pelit pada anda. Tersenyumlah
pada orang yang cemberut pada anda. Sapa dan kunjungi lah orang yang memusuhi
anda. Beri hadiah. Kata orang bijak, “Seseorang disebut kuat,
bila ia bisa menahan amarahnya.“ Anda
pasti mau jadi orang yang kuat, kan.
Ada satu
pendapat bagus dari Aa Gym. Kata beliau,
kita harus berterima kasih pada orang yang memusuhi kita. Kenapa begitu?
Karena, orang yang memusuhi kita adalah orang yang paling sering
mengingat kita. Hampir sama dengan orang
yang mencintai kita. Karena itu
berterima kasihlah.
Jangan dengarkan
hal-hal negatif dari orang lain. Bila
kita mendengarkan, maka kita akan jadi orang yang negatif pula. “Kita adalah apa yang kita dengar“.
Bila kita hanya
mau mendengar hal-hal baik saja, maka kita hanya akan berpikir hal-hal
baik. Bila kita berpikir hal-hal baik,
kita hanya mengucapkan dan melakukan hal-hal baik. Begitu pula sebaliknya.
Hanya mendengar
hal-hal baik, bukan berarti kita tidak mendengar hal-hal buruk. Tapi, bila kita mulai mendengar hal-hal
buruk, kita menjauh. Atau kita berusaha
memperbaikinya.
Misalnya, kita
lagi ngobrol dengan teman-teman. Tiba-tiba,
obrolan koq jadi ngomongin keburukan teman kita yang lain. Nah, saat itulah kita coba membelokkan
kembali arah obrolan. Bila tidak mampu,
kita yang menyingkir dari obrolan itu.
Jangan malah tambah semangat.
Nah, dalam
perjalanan anda menuju sukses, pasti ada orang yang justru menghambat
anda. Kata-katanya negatif. Bukannya memberi semangat, malah melemahkan
semangat. Bukannya memberi solusi, malah
memberi masalah baru. Bukannya
mendamaikan, malah ngomporin. Nah, saya
sarankan jauhilah orang-orang seperti ini.
bila anda terus berdekatan dengan orang begini, lama-lama anda akan juga
jadi orang yang sama.
Hal keempat yang
bisa kita pelajari :
BALASLAH PERBUATAN BAIK DENGAN PERBUATAN
YANG LEBIH BAIK
Budi dan Diah,
dua orang anak sang nelayan. Kedua anak
ini menguburkan sang kerang dengan tulisan yang sangat mengharukan:
KERANG MUTIARA, PAHLAWAN BUDI DAN DIAH.
Tulisan itu
menunjukkan, keduanya adalah anak yang tahu balas budi.
Karena jasa
kerang mutiara, mereka berdua bisa melanjutkan sekolah. Mungkin bila tak ada kerang mutiara,
pendidikan mereka akan terbengkalai.
Itulah sebabnya, mereka sangat berterima kasih pada sang kerang. Mereka anak-anak yang tahu balas budi. Mereka pun akan jadi ’Kerang Mutiara’.
Membalas
perbuatan baik dengan perbuatan yang lebih baik adalah kunci sukses lain. Ia terbukti manjur. Bila anda menerima perbuatan baik dari orang
lain, anda pun membalasnya dengan lebih baik.
Kira-kira apa yang akan dilakukan orang itu? Saya yakin, ia akan memberi anda hal-hal baik
lagi. Begitu seterusnya. Anda dan dia jadi orang baik. Bukan hanya itu, anda dan dia AKAN MENJADI
ORANG BESAR.