- Home
- Manajemen Diri
- Keajaiban Senyum
Keajaiban Senyum
- By Supardi Lee
- Published 30/05/08
- Manajemen Diri
-
Rating:




Supardi Lee
Supardi Lee adalah seorang entrepreneur sukses, trainer berpengalaman, dan penulis. Bukunya diantaranya The Rich Plan, Achiever, Opportunity Quotient, Kerja Kecil. Setiap Kamis Pkl. 05.00 - 06.00 ia mengisi acara Power of Life di Radio Trijaya 104,6 FM. Ia bisa dihubungi di 0813.1990.8086 dan di supardiku@yahoo.com
View all articles by Supardi LeeSimple and Powerful
Tersenyum, betapa mudahnya hal ini dilakukan. Hanya butuh sedetik untuk merubah bentuk
bibir menjadi senyum. Dan hanya butuh
tujuh detik mempertahankan sang senyum untuk terlihat sebagai ungkapan
ketulusan hati.
Tetapi kenapa hal sederhana ini jarang
terlihat? Wajah-wajah di jalan, di
angkutan umum, di kantin, di kantor, bahkan di tempat wisata yang seharusnya
menjadi kebun senyum, justru terlihat buram.
Kerutan-kerutan di wajah menunjukkan betapa berat beban yang harus
ditanggung wajah-wajah itu. Banyak wajah
yang daerah diantara dua matanya mengkerut.
Menyeramkan dan tampak garang.
Duh...
Senyum itu sudah hilang dari wajah banyak
orang. Entah kenapa senyum – bahkan tawa
– yang selalu cerah menghiasi wajah-wajah itu dari kecil, sirna begitu
saja. Sekarang, bahkan bukan hanya
wajah-wajah tua dan dewasa yang telah kehilangan senyum manis. Wajah para remaja dan anak-anak pun telah
ketularan kerutan-kerutan penuh beban itu.
Senyum pada hakikatnya adalah salah satu anugerah
indah dari Tuhan Yang Maha Indah. Tuhan
sengaja menganugerahkan senyum sebagai
bagian dari keindahan manusia. Sayang,
anugerah indah ini, tidak banyak ditemui di wajah banyak manusia. Dunia akan jauh lebih indah bila penduduknya
gemar tersenyum.
Hidup dan kehidupan manusia pun akan lebih indah dan
menenteramkan bila kita menemui banyak senyum di sekeliling kita. Terutama sang senyum dari wajah kita sendiri. Bukankah sangat enak bila kita menerima
senyum? Dan bukankah jauh lebih enak
bila kita lah yang memberi senyum?
Saudara, senyum yang sederhana, mudah dan gratis itu
ternyata menyimpan banyak keajaiban.
Setidaknya dari berbagai pengalaman dalam hidup saya. Yap, dalam hidup saya, saya menemui banyak
keajaiban. Bentuknya macam-macam. Ada
kemudahan, kesehatan, kekayaan, kebaikan, solusi dan sebagainya dari
sebuah senyuman.
Sang senyum – lengkungan yang menurut Pak Gede Prama
bisa meluruskan banyak hal – adalah hal yang luar biasa. Ia seperti oase di
tengah gurun pasir. Ia seperti setetes
air jernih dari mata air yang bisa menghilangkan dahaga. Ia seperti udara bagi yang tercekik. Ia seperti sumbangan uang bagi fakir miskin
yang dirawat di rumah sakit. Ia seperti
mangga muda bagi ibu muda yang sedang ngidam.
Ia seperti pinjaman uang bagi yang sedang membutuhkan. Ia juga seperti semangkuk mie instan
bagi pengungsi yang kelaparan.
Senyum pada hakikatnya adalah kebutuhan
manusia. Siapa yang senang tersenyum
membuat jiwa, perasaan, pikiran dan fisiknya terpenuhi salah satu kebutuhannya. Bila manusia tidak senang tersenyum, ada luka
di jiwa, rasa dan pikirnya. Sang jiwa
yang terluka membuat hidup dipenuhi kegelisahan. Sang rasa yang terluka membuat hidup tidak
tenang. Sang pikir yang terluka membuat
hidup penuh beban.
Senyum tulus ada aturannya? Ya, ada.
Aturan ini saya dapat dari dua orang guru saya. Pertama Pak Jamil Azzaini. Kedua, Pak Amir Tengku Ramly. Pertama sekali, saya belajar dari Pak Jamil,
bahwa senyum itu harus 227. Artinya senyum
baru terlihat tulus dengan menarik bibir ke kanan 2 cm, ke kiri 2 cm,
pertahankan minimal selama 7 detik. Bila
kurang dari 7 detik, maka senyum itu akan kehilangan ketulusannya.
Aturan ini lalu disempurnakan oleh Pak Amir. Menurut Pak Amir, senyum itu harus 127. Angka satu artinya sang senyum harus lah
berasal dan bertujuan untuk menyatukan hati. Hati yang
memberi dan menerima senyum. Dengan
begitu, senyum itu berperan sebagai pengikat dan jembatan antara satu diri
dengan diri-diri yang lain. Sedang angka 2 dan 7, maknanya sama dengan
aturannya Pak Jamil.
Ia
sederhana, tapi dahsyat luar biasa.
Ia
kecil, tapi bermakna raksasa.
Ia mudah,
tapi sangat berharga.
Karenanya,....
Tersenyum
lah saudara
Nikmati
keajaiban-keajaiban dalam hidup anda.
Dan...
Bagikanlah
keajaiban bagi hidup sesama kita.
Spread The Word
7 Responses to "Keajaiban Senyum" 
|
said this on 23 Jun 2008 1:37:47 PM EST
assalamualaikum wr.wb saya pendengar power of life di 97fm trijaya jogja. . . sejak mengikuti acra tersebut saya mempunyai semangat hidup yg lebih. .hehehe
|
|
said this on 03 Jul 2008 4:21:05 AM EST
Asalamualaikum wr wb saya pendengar baru acara the power of life, banyak keuntungan yang saya dapat. Kini saya berusaha selalu berfikir positif, berbaik sangka terhadap semua kejadian yang Allah berikan. Kata-kata pun saya mulai menjaganya, agar yang keluar dariku adalah kata-kata yang baik. Saya bersyukur sekali, Allah telah membimbingku sehingga bisa tahu tentang acara ini. Sungguh indah rencana Allah. Mudah-mudahan kita semua dalam ridho Allah SWT.
|
|
said this on 28 Jul 2008 2:53:42 AM EST
Assalamu'alaikum wr. wb. Senyum memeang bisa membuat kita awet muda, bisa menjalin persaudaraan dg orang lain. Dan dg senyum, kita telah bersedekah. Saya biasanya suka terssenyum coz saya bukan orang yg kaya jadi cuma bisa bersedekah dg senyum :-) btw, saya tiap hari pasti mendengarkan trijaya "power of life". Salam yach buat istri muda nan cantik pak supardi lee :-)
|
|
said this on 28 Jul 2008 2:59:50 AM EST
Assalamu'alaikum wr. wb. Emang bener, senyum bisa membuat kita awet muda, bisa menyambung tali persaudaraan dan tentunya bernilai sedekah jika kita ikhlas tersenyum. Btw, saya tiap hari mendengarkan power of life.
|
|
said this on 31 Jul 2008 5:30:30 AM EST
Ass...trims banget atas petuah*nya dari mas Supardi tentang senyum.Skedar info saja, face mas Supardilee mirip loh dengan face aku. Sekarang setiap bangun tidur, aku usahakan selalu senyum pada diriku sendiri. Dan ternyata hasilnya Ruarrrr Biasa fresh ke diri aku. Terima kasih mas Supardilee dan salam Luuuarbiasa.
|
|
said this on 11 Aug 2008 12:47:11 AM EST
Assalamualikum
subhanallah..dengan tersenyum, saya merasa memilki hari yang lebih berarti...serasa orang2 yg didekat menjadi saudara dalam sekejap..
"Lytha Budiarti Pamungkas"
|
|
said this on 15 Nov 2008 6:32:32 AM EST
ass
senang sekali bisa tersenyum
senyum itu ibadah
senyum itu indah senyum itu anugrah
"maka tersenyumlah"
|


Author)