H.R. Sofuan M. atau yang lebih dikenal sebagai Rudy Madian saat ini aktif sebagai konsultan dalam bidang eksport pertanian-pertambangan, management dan keuangan. Rudy adalah seseorang yang percaya betul bahwa kekuatan ada dalam diri kita sendiri. Dan bahwa kebahagiaan adalah selalu ada dalam diri kita. Menurut Rudy senjata paling ampuh dalam pengembangan diri adalah bersyukur dan menjadikan rasa kasih sebagai alat dalam kehidupan ini. Ada sebuah
fabel dari Afrika Barat yang menarik....
Alkisah
pada suatu hari Tuhan berjalan-jalan di bumi menyamar sebagai seorang
gelandangan tua dengan memakai sebuah topi berwarna. Ia memakai topi yang satu sisinya berwarna
merah, sisi lain putih, depannya hijau dan di belakangnya hitam.
Tuhan mendatangi sekelompok orang
disebuah desa yang sedang bekerja dan memutuskan untuk bersenda gurau
dengan mereka. Karena pembicaraan sangat menarik, semakin malam semakin banyak
orang berdatangan mengerumuni Tuhan dan mendengarkan kisah-kisah menarik
dariNYa.
“Apakah kau
melihat orang tua bertopi putih yang bercerita malam itu?” tanya orang pertama.
“Putih???Bukan,
warna topinya merah” orang kedua menjawab.
“Jangan
begitu...warna topinya putih” kata orang yang pertama “jelas-jelas putih…”
“Bukan....” sanggah orang yang kedua. “Saya melihatnya sendiri dengan kedua
mata saya dan topi itu jelas berwarna merah.”
“Kamu pasti
buta!” kata orang yang pertama.
“Enak
saja....tidak ada masalah dengan mata saya” ujar orang yang kedua dengan suara
yang mulai meninggi “pasti kamu yang sedang mabuk!”
“Kalian berdua memang buta!” tiba-tiba orang yang ketiga ikut berbicara “ Orang
tua itu jelas-jelas memakai topi berwarna hijau.”
“Ada apa
dengan kalian ini?” ujar orang yang keempat. “Topinya berwarna hitam dan semua
orang bisa melhat warna itu. Kalian pasti setengah tertidur ketika Ia bercerita
malam itu. Betapa bodohnya kalian.”
Perseteruan
antara mereka soal warna topi Tuhan terus terjadi hingga tanpa disadari
kelompok orang didesa itu yang sebelumnya hidup dengan berteman dan rukun
berubah menjadi permusuhan.
Perseteruan
tersebut masih terjadi sampai hari ini, turun temurun kepada anak cucu
mereka. Pembenci putih melawan pembenci
merah, pembenci hijau melawan pembenci hitam, merah lawan hijau, hitam lawan
merah dan seterusnya – masing-masing bersikukuh dengan apa yang mereka lihat,
tidak mau dibantah mengenai warna topi yang dipakai oleh Tuhan.
Sementara
itu, Tuhan sampai saat ini masih sering berjalan-jalan di desa tersebut dan
sekitarnya, dalam penyamaran, tapi ironis dan sedihnya, sekarang para pembenci
gila tersebut terlalu sibuk mempertahankan argumentasi mereka, sehingga tidak
memperhatikan lagi.....
Kita
masing2 mempunyai persepsi. Pengetahuan
mendalam mengenai persepsi dan realitas yang kita lihat, sangat penting dalam
kehidupan kita sehari-sehari. Kesadaran akan persepsi yang tidak mungkin sama seratus persen pada
setiap orang akan dapat mengurangi banyak konflik dalam kehidupan.
Bagaimana
kita akan mempunyai pandangan yang sama seratus persen apabila panca indera kita
masing-masing berbeda. Apa yang kita lihat, rasa, dengar, cium dan raba pasti
berbeda. Realitas apa yang kita lihat dalam otak kita tidak mungkin sama satu
sama dengan yang lainnya.
Kebenaran yang kita lihat, rasa,dengar, cium dan raba adalah seratus persen
benar-benar unik bagi diri kita masing-masing...ya diri kita sendiri. Mungkin
saja ada persamaan pendapat dengan orang lain, tapi jelas realitas yang
dilihat, dirasa, didengar, dicium dan diraba oleh orang tersebut tidak mungkin
sama seratus persen dengan yang ada diotak kita.
Belief system kita masing-masing, terbentuk karena
pengalaman diri kita masing-masing dalam kehidupan yang telah kita jalani
selama ini. Persepsi yang kita dapati dan percayai sebagai kebenaran lah yang
membentuk belief system kita. Persepsi terbentuk dari masukan yang kita terima
selama ini dari lingkungan kita, orang tua, keluarga, guru, komunitas, media
berita, budaya, pemerintah, kepercayaan dan sebagainya.
Kerangka-kerangka
persepsi ini terbentuk dari kombinasi pengetahuan dan pendapat yang kita dapat
terus menerus, dicampur dengan sifat menghakimi dan arogansi dari masing-masing
kita sendiri. Segala sesuatu didunia ini akan dinilai dan dihakimi melalui
kerangka-kerangka persepsi ini. Semua informasi yang tidak cocok dengan
kerangka-kerangka persepsi atau belief
system kita, kita akan ditolak.
Dan jelas
belief system orang lain, walau itu saudara sekandung/isteri/anak sekalipun
pasti berbeda.
Menghargai
pendapat orang lain merupakan langkah yang dapat kita lakukan.
Kita perlu mempunyai open mind dan mau mendengarkan pendapat orang lain.
Selama kita mempunyai open mind, kebenaran dan realitas akan masuk kedalam diri
kita dan dapat mengubah pikiran dan tubuh kita. Bila kita tutup pikiran kita
terhadap input-input baru, bagaimanapun kuat dan benarnya input itu, ia tidak
akan bisa masuk dalam diri kita. Selain itu kita juga harus siap untuk mengakui
bahwa mungkin saja belief system yang ada pada kita selama ini salah.
Untuk memecah dan membuang kerangka-kerangka persepsi yang telah terbentuk sekian lama, anda harus secara jelas merasakan masalah dan batasan yang ada pada pendapat dan pengetahuan yang ada pada diri anda sekarang. Juga anda harus melihat sifat menghakimi dan arogansi yang ada pada anda, dan mengakui keberadaan sifat-sifat itu.
Open mind adalah sebuah sifat yang mengakui berbagai
kemungkinan dalam segala hal.
Open mind dimulai dengan mengakui bahwa ada diantara
pendapat dan pengetahuan yang kita miliki dan yakini saat ini, bisa saja salah.