Supardi Lee adalah seorang entrepreneur sukses, trainer berpengalaman, dan penulis. Bukunya diantaranya The Rich Plan, Achiever, Opportunity Quotient, Kerja Kecil.
Setiap Kamis Pkl. 05.00 - 06.00 ia mengisi acara Power of Life di Radio Trijaya 104,6 FM. Ia bisa dihubungi di 0813.1990.8086 dan di supardiku@yahoo.com Seorang ayah
punya tugas memandikan putra kesayangannya setiap pagi. Sang anak berusia tiga tahun. Dan ia tidak suka mandi!
Berbagai cara
dicoba untuk membuat sang anak mandi.
Dari cara terhalus berbentuk bujukan sampai cara kasar,... paksaan dan
pukulan. Semuanya gagal. Putranya bukan jadi mau mandi, tapi jadi
membencinya. Ia menangis dan mulai
membalas pukulan. Dua hal yang sudah
dianggap nggak apa-apa oleh sang ayah.
Apalagi ia harus mengejar waktu untuk bisa masuk kerja tepat waktu. Rutinitas yang membuat sang ayah kesal, marah
dan hampir putus asa. Tapi ia tidak mau
melepaskan tugas tersebut. Gengsi
menghalanginya. ”Masa mandiin anak kecil
aja nggak bisa”, begitu pikirnya.
Sampai suatu
pagi, prosesi paksaan mandi kembali dilakukan, tentu dengan bentakan dan
pukulan. Sambil menangis pilu, sang anak
berkata pada ayahnya : ”Ayah galak,... Ayah jahat...”. Kata-kata itu benar-benar menusuk hatinya.
Selama ini, ia
juga kena pukul anaknya. Tapi sakitnya
tidak sesakit kata-kata ”Ayah galak, ayah jahat” tadi. Seharian ia tidak bisa bekerja dengan
baik. Kata-kata anaknya benar-benar
menyentaknya. Tak terasa, matanya
berkaca-kaca. Sang ayah menangis. Ia benar-benar menyesal telah memperlakukan
anak kesayangannya demikian buruk.
Sejak hari itu,
ia tidak lagi memaksa anaknya mandi.
Sang anak memang tidak mandi.
Paling ganti baju saja. Tapi,...
tidak ada tangisan dan teriakan setiap hari.
Sang ayah kembali
berpikir bagaimana membuat anaknya senang mandi tanpa paksaan, teriakan apalagi
pukulan. Berbagai alternatif
muncul. Beberapa dicoba. Gagal total.
Tapi sang ayah tidak menyerah. Ia
kembali mencari cara yang lebih baik.
Sampai suatu
ketika, suatu kesadaran baru timbul. Sang
ayah sadar, membuat anaknya senang mandi adalah sudut pandang yang keliru. Bagi anak usia tiga tahun, tidak ada
aktivitas yang disenanginya, kecuali bermain.
Jadi pertanyaannya bukan bagaimana membuat anaknya senang mandi, tapi
bagaimana bersenang-senang dengan anaknya, termasuk ketika mandi. Pemikiran ini menggeser fokus dan
pendekatannya. Dari fokus pada anaknya
menjadi fokus pada dirinya sendiri.
Kesadaran ini
membuat sang ayah merubah perintah mandi : ”Nak, mandi sana!” menjadi ajakan
untuk bermain : ”Nak, main air yuk...”.
Selain itu, mandi justru menjadi aktivitas sampingan. Aktivitas utamanya adalah main. Dari mencuci bola anaknya, membuat gelembung sabun,
main robot-robotan di air, mengisi air ke botol, dan sebagainya. Mandi pun menjadi aktivitas yang menyenangkan.
Beberapa kali,
sang anak memang masih tidak mau mandi.
Tapi, hal ini bukan lagi suatu masalah besar. Sang ayah menjadi sangat kreatif dan sabar
mencari permainan yang akhirnya membawa mereka ke kamar mandi, main air dan
mandi. Makin lama, proses main dan mandi ini menjadi
makin cepat. Dan akhirnya, suatu pagi
sang anak berkata pada ayahnya: ”Yah, mandi yuk...” Sang ayah pun langsung memeluk dan
menggendong anak tercintanya. Dengan
mata berkaca-kaca, sang ayah berkata: ”Ayuk...”
Saudara, mendidik
anak membutuhkan kesabaran, bukan kemarahan.
Kreatifitas menjadi penting dalam proses menumbuhkan kesabaran ini. Anda tidak akan jadi orang tua yang sabar
bila anda tidak kreatif. Kekerasan dalam
memperlakukan anak tidak akan mendidik apapun selain dendam.
Dalam kasus di
atas, diperlukan banyak waktu untuk menjalin cinta dan keakraban antara sang
ayah dengan anaknya. Tidak efisien. Tapi memang bukan efisiensi (hemat
sumberdaya) yang menjadi fokus utama dalam mendidik anak. Efektifitas (tujuan tercapai dengan baik)
adalah fokusnya. Jadi, asalkan terjalin
cinta tulus antara orang tua dengan anaknya, masalah diperlukan banyak waktu,
tenaga, pikiran, dana, dan sebagainya tidak lah menjadi masalah.
Nah saudara,
jangan salah fokus. Jangan ingin cepat-cepat
mendidik anak. Tenang saja. Anda punya waktu yang berlebih untuk mendidik
anak dan terutama mendidik diri anda sendiri untuk menumbuhkan cinta tulus
diantara anda dan buah hati anda.
Selamat bersabar
dan kreatif...