Terus Miliki Kekurangan
- By Supardi Lee
- Published 31/03/09
- Motivasi
-
Rating:




Supardi Lee
Supardi Lee adalah seorang entrepreneur sukses, trainer berpengalaman, dan penulis. Bukunya diantaranya The Rich Plan, Achiever, Opportunity Quotient, Kerja Kecil. Setiap Kamis Pkl. 05.00 - 06.00 ia mengisi acara Power of Life di Radio Trijaya 104,6 FM. Ia bisa dihubungi di 0813.1990.8086 dan di supardiku@yahoo.com
View all articles by Supardi LeeKekuangan adalah Pemungkin Kemajuan
Hidupnya
hebat. Hartanya melimpah ruah. Keluarganya harmonis. Perusahaannya maju pesat. Teman-temannya baik dan setia. Karyawannya orang-orang pilihan. Rumahnya nyaman tak terkira. Ibadahnya luar biasa. Amalnya di atas rata-rata. Popularitasnya melegenda.
“Lalu apa lagi
yang ia hendak raih?” Ah, pertanyaan ini
menjadi susah untuk dijawab. Ia benar-benar merasa seluruh aspek
kehidupannya sudah berada di kualitas yang tertinggi. Pertambahan materi sudah
tak berarti lagi untuknya. Toh, ia dan
keluarganya sangat nyaman hidup dalam kesederhanaan. Hidupnya tak kekurangan sesuatu apapun.
Tapi, ternyata
hidup tak ada kekurangan apapun justru menyiksanya luar biasa. Lebih menyiksa dari hidupnya waktu kecil yang
justru penuh dengan kekurangan. Karena
penuh dengan kekurangan itulah yang membuatnya ‘terbakar’. Darah
mudanya bergolak. Otaknya berputar
keras. Hatinya penuh dengan
kekuatan. Maka ia pun belajar dan
bekerja keras luar biasa. Siang dan
malam tak ada bedanya. Tidur nya pun
hanya sekerejapan mata. Itu pun tak
membuat energinya habis. Sebaliknya,
energi itu terus bangkit dan membola salju.
Segala kekurangan yang ada pada diri dan keluarganya itu memicu dan
memacunya.
Maka berbagai
sukses dan prestasi pun diraihnya. Dari
bidang akademik, bisnis, hobi, pertemanan, sampai bidang keluarga dan
spiritual. Semua aspek dalam hidupnya
tak tercela. Bukan hanya tak tercela,
tapi gemilang. Kekurangan-kekurangan itu
telah ia tutupi. Hinaan telah ia jungkir
balik-kan menjadi pujian dan kekaguman.
Tapi sekarang, ia
berdiri disana. Jiwanya tersiksa. Berbagai pertanyaan menyerbunya. Dan ada satu yang paling nyaring ia dengar :
“Apa yang kurang pada diriku sampai merasa tersiksa seperti ini?”
Saudara, menurut
anda apa yang terjadi pada sosok di atas tadi?
Mengapa ia bisa mengalami hal seperti itu? Di tengah hidup yang luar biasa, ia justru
merasa tersiksa. Bukankah hidupnya sudah
seimbang? Ia tak hanya mengejar dunia,
ia juga mengejar akhirat. Kerjanya
sehebat ibadahnya. Ilmunya setinggi
imannya. Apa yang terjadi?
Menurut saya,
yang terjadi adalah terjadinya jarak antara dirinya dengan fithrahnya sebagai
manusia. Fithrah yang mana? Fithrah bahwa manusia adalah mahluk yang
selalu punya kekurangan. Perasaan bahwa
ia sudah bisa menutupi semua kekurangan dirinya telah mengelabuinya.
Kenapa manusia
punya fithrah seperti itu? Agar hidupnya bisa terus maju dan
berkembang.
Jadi kekurangan
adalah sebuah anugerah luar biasa. Ia adalah pemungkin perbaikan dan
kemajuan. Maka miliki lah
kekurangan. Lalu tutupi dengan sukses
dan prestasi. Sampai kapan? Sampai anda tak bernafas lagi. Bila anda sudah tak bisa lagi menemukan
kekurangan dalam diri anda, cari dan temukan kekurangan pada diri orang lain. Bantu mereka untuk menutupi
kekurangan-kekurangan mereka itu. Toh,
pada hakikatnya anda adalah mereka. Mereka
adalah anda.
Maka di tengah
berbagai kekurangan, anda justru akan menemukan kebahagiaan.
Spread The Word
3 Responses to "Terus Miliki Kekurangan" 
|
said this on 22 Apr 2009 11:39:16 PM EST
saya rasa cerita diatas fiktif, yang paling tak saya setujui pada "Bukankah hidupnya sudah seimbang? Ia tak hanya mengejar dunia, ia juga mengejar akhirat. Kerjanya sehebat ibadahnya. Ilmunya setinggi imannya. Apa yang terjadi?" namun masih juga tersiksa. Hanya Orang-orang yang beserta Tuhannya yang memiliki jiwa yang tenang.
|
|
said this on 02 May 2009 5:37:22 AM EST
Mm..., siapa sih manusia yang sudah merasa tidak kekurangan? Kayaknya jelas bahwa kondisi dari sosok cerita di atas adalah sebuah pengandaian. Yang bisa saya tangkap dari cerita itu sendiri adalah pemberian makna dari kekurangan.
Secara common sense kekurangan selama ini dianggap sebagai suatu "kekurangan" (nah lo...). Namun dengan sudut pandang berbeda - pengandaian seperti cerita di atas - kekurangan diberi makna sebagai anugerah.
Way of positive thinking. Good.., good...
|
|
said this on 25 Jun 2009 9:31:50 AM EST
saya kira jika sudah seimbang itu maka hiduponya akan bahagia.
ceritanya terlalu berlebihan dan tidak logis...
hmmm gimana ??
betul kan
lagian jika dia benar2 beribadah dengan ikhlas pasti bahagia, jika ada yang bilang dia tidak bahagia berarti orang tersebut belum tahu bagaimana rasanya ibadah yang nikmat dan tentram itu.
orang yg beribadah dengan ikhlas pasti tahu rasa nikmat dalam beribadah..
contoh ketika solat malam...
wah tenangnya jiwa ini bila ikhlkas dalam ibadah.
jika ada orang yang tidak tenang maka iabadahnya kurang atau tidak ikhlas.
karena hanya dengan mengingat ALLah lah hati menjadi tenang
|


Author)

