- Home
- Relationship
- Sweet Revenge
Sweet Revenge
- By Supardi Lee
- Published 2/07/09
- Relationship
-
Rating:




Supardi Lee
Supardi Lee adalah seorang entrepreneur sukses, trainer berpengalaman, dan penulis. Bukunya diantaranya The Rich Plan, Achiever, Opportunity Quotient, Kerja Kecil. Setiap Kamis Pkl. 05.00 - 06.00 ia mengisi acara Power of Life di Radio Trijaya 104,6 FM. Ia bisa dihubungi di 0813.1990.8086 dan di supardiku@yahoo.com
View all articles by Supardi Leeberkuasa atas diri sendiri
Pernah kah anda disakiti padahal anda tak punya salah apa-apa? Saya pernah. Dan sakit sekali rasanya. Waktu itu saya belum kenal dengan cinta tanpa syarat. Memaafkan belum ada dalam kamus hidup saya. Mendoakan? Apa lagi! Berbuat baik pada yang berbuat buruk pada kita? Ah, nggak kepikiran sama sekali. Maka saya punya dua pilihan. Pasrah atau balas. Maka pilihan kedua lah yang saya pilih : BALAS. Dan rasanya enak sekali. Balas dendam itu melegakan.
Belakangan saya belajar banyak mengenai ini. Suatu kepedihan – karena apapun atau siapapun – akan menjadi beban bila dipendam. Seseorang yang disakiti pada hakikatnya diberikan energi negatif. Maka bila energy negative itu tak dilepaskan, maka ia akan terus ada. Membebani. Terus menyakiti. Merusak. Bahkan bisa bertambah besar.
Karena itu, sangat penting melepaskan energi kepedihan itu.
Salah satu cara melepas energi kepedihan itu adalah dengan membalas pada orang yang telah melepaskan energy itu pada kita. Nah, dalam konteks ini, kita punya dua pilihan.
Pertama, membalas sama buruknya. Pilihan ini bisa melepas energy kepedihan itu. Tapi resikonya besar juga. Orang yang terkena energi pembalasan yang buruk ini, bisa membalas lagi pada kita. Pembalasan yang buruk pula. Maka dimulai lah sebuah siklus balas dendam tiada akhir yang sangat buruk. Pada pilihan ini, hinaan dibalas hinaan. Kecurangan dibalas kecurangan. Kemarahan dibalas kemaharan.
Kedua, membalas dengan energy baik / manis (sweet revenge). Pilihan ini membuat kita membangkitkan energy baik yang bisa mengatasi dan mendorong keluar energy kepedihan yang ada di diri kita. Membalas jenis ini bisa mengakhiri kepedihan.
Anda karyawan berkualitas emas tapi diperlakukan seperti besi oleh bos anda. Anda terlalu sering dimarahi atas prestasi anda. Anda dihina melewati batas atas kesalahan anda. Kreativitas anda disepelekan. Usul anda dibuang ke tong sampah. Maka balaslah dengan manis. Keluar dari pekerjaan anda. Jadilah lebih berprestasi. Jadilah lebih kaya. Jadilah lebih berkuasa. Dan dengan kekuasaan anda, genggamlah mantan bos anda itu. Buat lah dia mengkerut di depan anda. Dan rasakanlah… betapa manisnya pembalasan itu. Katakan pada banyak orang bahwa prestasi anda yang sekarang adalah juga karena mantan bos anda itu. Cukuplah sampai segitu. Jangan diteruskan balas dendamnya. Karena bila diteruskan, anda mungkin yang akan menyakiti dia dengan energy negative anda.
Anda istri setia yang dikhianati suami anda. Balas kepedihan itu dengan manis. Jadilah istri yang diinginkan bahkan digila-gilai oleh suami anda. Jadilah lebih cantik dan menawan. Jadilah pribadi yang kuat. Hapus air mata kesedihan anda. Keraskan rahang anda. Jadilah lebih berkuasa atasnya. Buat suami anda berlutut di depan anda. Memohon maaf dari anda. Menghiba belas kasihan anda. Dan rasakanlah kenikmatan itu. Rasakan melenyapnya kepedihan anda yang digantikan perasaan berkuasa yang enak luar biasa. Anda kuat. Anda bebas memilih untuk menerima dia kembali atau berpisah darinya. Pilihannya benar-benar berada di tangan anda. Lepas dan jauh dari ketakutan atau kekhawatiran akan apapun. Anda benar-benar berkuasa atas diri anda.
Cinta anda ditolak karena anda miskin. Jangan menangis. Jangan meratapi diri. Jangan menyalahkan Tuhan atau orang tua anda. Jangan merasa menjadi orang termiskin di dunia. Tapi jadilah kaya raya. Jadilah lebih kaya dari dia yang menolak anda itu. Buatlah diri anda berada pada posisi yang sama atau lebih kuat darinya. Buat dia jadi menginginkan anda. Buat dia menyesal atas penolakan yang telah dia lakukan. Pada saat itu, anda berkuasa untuk menerima atau menolak dia. Apakah anda menerima atau menolak dia, lakukan dengan penuh gaya dan kharisma. Jangan bersikap buruk padanya. Toh, beban kepedihan anda telah anda lepaskan. Anda telah terbebas dari segala beban.
Nikmati…
Belakangan saya belajar banyak mengenai ini. Suatu kepedihan – karena apapun atau siapapun – akan menjadi beban bila dipendam. Seseorang yang disakiti pada hakikatnya diberikan energi negatif. Maka bila energy negative itu tak dilepaskan, maka ia akan terus ada. Membebani. Terus menyakiti. Merusak. Bahkan bisa bertambah besar.
Karena itu, sangat penting melepaskan energi kepedihan itu.
Salah satu cara melepas energi kepedihan itu adalah dengan membalas pada orang yang telah melepaskan energy itu pada kita. Nah, dalam konteks ini, kita punya dua pilihan.
Pertama, membalas sama buruknya. Pilihan ini bisa melepas energy kepedihan itu. Tapi resikonya besar juga. Orang yang terkena energi pembalasan yang buruk ini, bisa membalas lagi pada kita. Pembalasan yang buruk pula. Maka dimulai lah sebuah siklus balas dendam tiada akhir yang sangat buruk. Pada pilihan ini, hinaan dibalas hinaan. Kecurangan dibalas kecurangan. Kemarahan dibalas kemaharan.
Kedua, membalas dengan energy baik / manis (sweet revenge). Pilihan ini membuat kita membangkitkan energy baik yang bisa mengatasi dan mendorong keluar energy kepedihan yang ada di diri kita. Membalas jenis ini bisa mengakhiri kepedihan.
Anda karyawan berkualitas emas tapi diperlakukan seperti besi oleh bos anda. Anda terlalu sering dimarahi atas prestasi anda. Anda dihina melewati batas atas kesalahan anda. Kreativitas anda disepelekan. Usul anda dibuang ke tong sampah. Maka balaslah dengan manis. Keluar dari pekerjaan anda. Jadilah lebih berprestasi. Jadilah lebih kaya. Jadilah lebih berkuasa. Dan dengan kekuasaan anda, genggamlah mantan bos anda itu. Buat lah dia mengkerut di depan anda. Dan rasakanlah… betapa manisnya pembalasan itu. Katakan pada banyak orang bahwa prestasi anda yang sekarang adalah juga karena mantan bos anda itu. Cukuplah sampai segitu. Jangan diteruskan balas dendamnya. Karena bila diteruskan, anda mungkin yang akan menyakiti dia dengan energy negative anda.
Anda istri setia yang dikhianati suami anda. Balas kepedihan itu dengan manis. Jadilah istri yang diinginkan bahkan digila-gilai oleh suami anda. Jadilah lebih cantik dan menawan. Jadilah pribadi yang kuat. Hapus air mata kesedihan anda. Keraskan rahang anda. Jadilah lebih berkuasa atasnya. Buat suami anda berlutut di depan anda. Memohon maaf dari anda. Menghiba belas kasihan anda. Dan rasakanlah kenikmatan itu. Rasakan melenyapnya kepedihan anda yang digantikan perasaan berkuasa yang enak luar biasa. Anda kuat. Anda bebas memilih untuk menerima dia kembali atau berpisah darinya. Pilihannya benar-benar berada di tangan anda. Lepas dan jauh dari ketakutan atau kekhawatiran akan apapun. Anda benar-benar berkuasa atas diri anda.
Cinta anda ditolak karena anda miskin. Jangan menangis. Jangan meratapi diri. Jangan menyalahkan Tuhan atau orang tua anda. Jangan merasa menjadi orang termiskin di dunia. Tapi jadilah kaya raya. Jadilah lebih kaya dari dia yang menolak anda itu. Buatlah diri anda berada pada posisi yang sama atau lebih kuat darinya. Buat dia jadi menginginkan anda. Buat dia menyesal atas penolakan yang telah dia lakukan. Pada saat itu, anda berkuasa untuk menerima atau menolak dia. Apakah anda menerima atau menolak dia, lakukan dengan penuh gaya dan kharisma. Jangan bersikap buruk padanya. Toh, beban kepedihan anda telah anda lepaskan. Anda telah terbebas dari segala beban.
Nikmati…
Spread The Word
12 Responses to "Sweet Revenge" 
|
said this on 28 Jul 2009 5:38:08 AM EST
saya merasa ada energi lagi setelah membaca artikel anda,saya mulai berfikir harus memulai positive terhadap situasi ini
|
|
said this on 20 Aug 2009 8:58:36 AM EST
Yang perlu di garis bawahi dari artikel ini adalah "Kita berkuasa atas diri kita sendiri" sangat membangkitkan semangat,
|
|
said this on 31 Aug 2009 6:24:37 AM EST
apakah sweet revenge ini identik dengan membalas air tuba dengan air susu,???
tapi yang paling sering saya alami adalah ketika orang yang sering saya tolong malah tidak tahu rasa terima kasih dan bahkan selalu berusaha menjatuhkan saya .Saya selalu berusaha sabar dan apakah saya msih bisa menerapkan teori ini?
dan bagaimana saya mengaplikasikannya?
|
|
said this on 05 Sep 2009 10:47:00 AM EST
Saya terkesan dengan artikel ini karena saya pun mengalami hal seperti itu, dihina, diabaikan dll, dan saya selalu berusaha tidak membalas dengan energi negative, tapi setelah saya berhasil dan lebih kuat dari orang yang mengejek saya, saya bersikap acuh pada mereka
|
|
said this on 30 Sep 2009 12:33:55 AM EST
artikel anda begitu menggugah hati yang membaca,seolah-olah energi negative saya tecopy positive.pikiran negative ibarat lumpur didlm mesin pikiran negative yang dapat merusak kehidupan.
|
|
said this on 30 Sep 2009 11:07:17 PM EST
ehm.....kesan tg sangat mengharukan,!!!!!!
saya akn mulai b'fikir sprti anda...
|
|
said this on 28 Dec 2009 11:55:27 PM EST
saya setuju dengan pak supardi lee bahwa kita berkuasa akan diri kita sendiri. maka kita harus menjadi manusia yang kuat dan gak mudah larut dalam kepedihan terus-menerus.
|
|
said this on 04 Feb 2010 1:48:29 PM EST
wow.... fantasitic..., saya juga pernah menglami hal yang sama pernah di kecewakan dan saya telah mengaplikasikan teori ini ternyata cukup berhasil, namun kesulitan saya adalah kenpa pikiran negatif selalu muncul dalam diri saya terhadap pasangan meskipun saya selalu mencoba dan mencoba untuk menghilangkan pikiran tersebut.., Mohon bantuanya bagaimana melatih pikiran untuk tetap berpikir positif....
|
|
said this on 23 Mar 2010 2:28:29 AM EST
It's a great. Aku sering disakiti untuk aku harus bisa kuat untuk membalasnya.
|
|
said this on 04 Sep 2010 9:14:48 PM EST
Good,,jadilah extraordinary people dengan apa yang Qt miliki skarang..
|
|
said this on 10 Feb 2011 9:16:04 PM EST
wach....wach....excelent dech artikel ini saya setuju artikel ini seperti kata pepatah air ketuban dibalas dgn air susu, ditampar pipi kanan berikanlah pipi kiri...............thank's f mr.supardi
|


Author)

