- Home
- Spiritualitas
- Berserah Diri: Sains atau Cuma Sekedar Dogma?
Berserah Diri: Sains atau Cuma Sekedar Dogma?
- By Al Falaq Arsendatama
- Published 7/06/10
- Spiritualitas
-
Rating:




Al Falaq Arsendatama
Al Falaq Arsendatama bekerja sebagai personal & executive coach yang membantu individu dan korporasi untuk memberdayakan potensi & kekuatan yang dimilikinya sebagai tool dalam pencapaian tujuan.
Ia juga director dan founder dari Coaching Indonesia http://www.coachingindonesia.com serta True Life Institute.
Diam Sejenak untuk Menerima Inspirasi
Berserah diri seolah-olah tidak melakukan apa-apa. Tapi seringkali kita
menerima pencerahan saat kita tidak berpikir.
Saat dihadapkan pada masalah biasanya kita berusaha sekuat tenaga mencari solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Apa yang terjadi? Seringnya kita justru tidak bisa melupakan masalah dan tenggelam pada ketidakberdayaan. Ada teman yang bilang: "Kemana pun saya pergi, masalah selalu mengikuti saya"
Albert Einstein pernah mengatakan, "Kita tidak bisa memecahkan masalah menggunakan pola pikir lama yang menciptakan masalah itu" Artinya kita ingin berhenti berpikir dan diam sesaat untuk "melupakan" masalah. Lantas kita mengizinkan diri kita untuk melihat permasalahan ini dari paradigma yang baru.
Dalam ajaran agama kita mengenal berserah diri atau ikhlas. Saat dihadapkan pada tantangan hidup rasanya banyak dari kita yang kesulitan menerapkan ikhlas ini. Ada yang bilang, "Ya sudah...ikhlaskan saja" Tapi apa benar Anda betul-betul ikhlas? Apa justru memendam kekesalan yang dikemudian hari bisa meledak?
Menurut sains fisika kuantum, isi alam semesta ini 99,9999% kosong. Hanya 0,0001% benda, termasuk manusia, bumi, planet, galaksi, dll. Para ilmuwan menemukan bahwa ruang kosong ini sebetulnya tidaklah kosong, namun mengandung potensi yang tak terhingga. Potensi ini yang kemudian menjadi manifestasi dalam bentuk materi dan keadaan, termasuk manusia dan kehidupannya.
Saat Anda cemas karena dihadapkan pada sebuah masalah. Berserah diri merupakan tindakan bijaksana untuk melepaskan kemelakatan dan mengakses potensi 99,9999% yang ada di alam semesta ini. Caranya dengan diam sejenak dan menghilangkan semua pikiran Anda tentang masalah itu. Ajukan pertanyaan pada diri Anda, "Apa rasanya seandainya saya tidak punya masalah?" Jangan dipikirkan jawabannya. Rasakan dan alihkan perhatian Anda ke pusat hati.
Di pusat hati ini Anda rasakan bagaimana hidup Anda tanpa masalah. Lantas barangkali hati Anda berbicara. Atau Anda merasakan sesuatu. Serahkan apapun yang muncul pada Yang Maha Kuasa yang bekerja melalui potensi kuantum. Seringkali Anda menemukan jawaban atas permasalahan yang Anda hadapi. Moment of englightenment, kata orang.
Silakan mencoba dan beritahu hasilnya di forum ini.
Saat dihadapkan pada masalah biasanya kita berusaha sekuat tenaga mencari solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Apa yang terjadi? Seringnya kita justru tidak bisa melupakan masalah dan tenggelam pada ketidakberdayaan. Ada teman yang bilang: "Kemana pun saya pergi, masalah selalu mengikuti saya"
Albert Einstein pernah mengatakan, "Kita tidak bisa memecahkan masalah menggunakan pola pikir lama yang menciptakan masalah itu" Artinya kita ingin berhenti berpikir dan diam sesaat untuk "melupakan" masalah. Lantas kita mengizinkan diri kita untuk melihat permasalahan ini dari paradigma yang baru.
Dalam ajaran agama kita mengenal berserah diri atau ikhlas. Saat dihadapkan pada tantangan hidup rasanya banyak dari kita yang kesulitan menerapkan ikhlas ini. Ada yang bilang, "Ya sudah...ikhlaskan saja" Tapi apa benar Anda betul-betul ikhlas? Apa justru memendam kekesalan yang dikemudian hari bisa meledak?
Menurut sains fisika kuantum, isi alam semesta ini 99,9999% kosong. Hanya 0,0001% benda, termasuk manusia, bumi, planet, galaksi, dll. Para ilmuwan menemukan bahwa ruang kosong ini sebetulnya tidaklah kosong, namun mengandung potensi yang tak terhingga. Potensi ini yang kemudian menjadi manifestasi dalam bentuk materi dan keadaan, termasuk manusia dan kehidupannya.
Saat Anda cemas karena dihadapkan pada sebuah masalah. Berserah diri merupakan tindakan bijaksana untuk melepaskan kemelakatan dan mengakses potensi 99,9999% yang ada di alam semesta ini. Caranya dengan diam sejenak dan menghilangkan semua pikiran Anda tentang masalah itu. Ajukan pertanyaan pada diri Anda, "Apa rasanya seandainya saya tidak punya masalah?" Jangan dipikirkan jawabannya. Rasakan dan alihkan perhatian Anda ke pusat hati.
Di pusat hati ini Anda rasakan bagaimana hidup Anda tanpa masalah. Lantas barangkali hati Anda berbicara. Atau Anda merasakan sesuatu. Serahkan apapun yang muncul pada Yang Maha Kuasa yang bekerja melalui potensi kuantum. Seringkali Anda menemukan jawaban atas permasalahan yang Anda hadapi. Moment of englightenment, kata orang.
Silakan mencoba dan beritahu hasilnya di forum ini.
Spread The Word
7 Responses to "Berserah Diri: Sains atau Cuma Sekedar Dogma?" 
|
said this on 14 Jun 2010 4:36:16 PM EST
Alkhamdulillah mas....saya sering melakukan hal tersebut, dan ternyata memang dengan cara ZMp ( zero Main proses sangat membantu sekali untuk meneyelesaikan masalah yang sama sekali sebelum nya tidak terbayangkan oleh kita jalan keluar nya....trmksh mas postingan nya....menambah keyakinan saya untuk bisa sering sering tfakur.........
|
|
said this on 15 Jun 2010 8:24:51 AM EST
Aku pernah negalami sesuatu yg pasti juga sering tmn2 alami, pd waktu itu, aku sedang marah besar trhdp tmn ku, hampir g ku maaf kan krn kesalahanya....tp di perjalanan pulang, pikiran berubah, aku menyesal, dan sepontan ingin memaafkan nya, tp sementara itu ego ku msh mnguasai emosiku, lama kelamaan aku berfikir, terlintas dlm benak ku...ini kah yg di namakan bisikan Tuhan ???....krn sesungguhnya marah itu setan.... sepontan aku bergegas mendatangi tmn ku, justru aku yang minta maaf krn sudah ngomong kasar tyerhadap beliau.... , dan setelah itu aku terbebas dr mslh, serta justru badan terasa ringan dan lebih fresh tanpa beban........teman2 yg baik, sering sering lah mendengar bisikan Nya, meskipun kita sedang di mana, sedang apa, bahkan sedang marah seklipun........gud luck......
|
|
said this on 19 Jun 2010 4:09:29 AM EST
Terima kasih atas informasinya. Jarang-jarang juga saya membaca postingan seperti ini. Saya tunggu artikel anda selanjutnya.
terima kasih
|
|
said this on 30 Jun 2010 10:08:26 PM EST
postingannya sangat bagus, hal ini sangat menginsoirasi saya untuk mengubah cara dalam menghadapi sebuah masalah yang sedang saya hadapi. biasanya, dalam menghadapi sebuah masalah saya cenderung panik dan selalu memutuskan solusi saat emosi memuncak tanpa memikirkan akibat yang timbul di depan. mudah2an setelah ini saya dapat lebih tenang dalam menghadapi masalah, agar saya dapat berpikir dengan baik dan menemukan solusi yang baik pula. Terima kasih.
|
|
said this on 03 Jul 2010 2:31:59 AM EST
saya adalah org yg baru belajar hidup serta kehidupan...dan juga ingin belajar untuk menjadi manusia yang seutuhnya manusia...apa yg disampaikan pd artikel ini makna nya cukup dalam..bisa dikupas lebih dalem lg?insyaallah banyak manfaatnya...ini pun memberikan wacana baru yg keren..makasih :)
|
|
said this on 29 Mar 2011 8:19:40 AM EST
dahsyat, luar biasa, selama ini hanya dogma agama yg itupun jarang ada yg mempercayai karena tidak logis. tetapi sekarang berkat fisika kuantum, hal itu menjadi logis dan sangat dianjurkan sebgaiman dalam perintah agama yg menganjurkan umatnya sellu dalam keadaan ikhlas dan tawakkan kepada Ilahi. maturswun
|
|
said this on 14 Apr 2011 12:33:53 PM EST
Sangat inspiratif mas...
Ikhlas....
Saat orang mengatakan ikhlaskan saja semuanya, sering kita menyepelekan hal tersebut. Terpikir oleh kita enak ngucapnya "ikhlas" tapi menjalaninya sulit. Yah berat memang jika diri ini tidak sepenuhnya berserah diri. Sesuatu yang bikin sulit dan berat karena kebanyakan dari kita tidak paham dan mengerti makna apa itu ikhlas.
Ide baru jalan baru sering timbul sa'at otak kita sedang rileks, saat tidak ada yang mengisi ruang pikir kita. Saat kita sedang menikmati panorama alam, ketika menikmati hening malam, dan suasana - suasana yang mengistirahatkan otak kita.
Ikhlas=serahkan segalanya dengan yang maha esa.
Biarkan masalah itu menemukan jalannya secara sendirinya. Istirahatkan otak dari berbagai hal tersebut, beri ruang kosong alam pikir, seperti halnya hukum quantum.
|


Author)

